Tutug adalah kelanjutan dari sikap tatag. Kata tutug mengacu pada keberhasilan kerja sebagai hadiah dari tindakan tatag, sehingga bagi yang melakukannya memperoleh kepuasan jiwani. Ada satu hal yang selalu membuat repot ketika pekerjaan tidak tutug. Tidak jarang mereka yang dulunya terlibat lantas mengaku paling berjasa, sehingga menjadikan solidaritas terpecah-belah. Tinggal menunggu pembagian kenikmatan saja banyak di antara kita tidak bisa. Antara satu dengan yang lain berebut tulang-belulang. Ini sudah sering terjadi. Alangkah mulianya kalau masing-masing pihak mengikis ambisinya. Pada akhirnya semua orang akan tahu, mana yang emas mana yang loyang, sebuah seleksi alam. (Dari berbagai sumber)