English Version | Bahasa Indonesia
Daftar | Masuk Kamis, 24 Mei 2012

Kampung Kauman, Pesona Perjuangan Islam

Foto By: Ricky Ditriyan

Rating : 4.3 ( 3 pemilih )

A. Selayang Pandang

Menelusuri Kota Yogyakarta yang terkenal dengan kota pelajar, serasa tidak lengkap jika tidak menikmati suasana Kampung Kauman Yogyakarta. Masjid Gedhe Kauman merupakan bangunan pertama yang tampak sebelum memasuki kawasan rumah-rumah penduduk. Sultan Hamengku Buwono I saat itu mengumpulkan ulama-ulama untuk tinggal di sekitar masjid. Tidak saja ahli agama atau ketib yang menetap di tempat tersebut, namun masing-masing mendirikan langgar yang berfungsi sebagai pesantren, namun Raja Yogyakarta saat itu juga menyiapkan abdi dalem yang berjumlah 40 orang untuk memakmurkan masjid ini. Oleh karena yang tinggal di sekitar masjid ini merupakan orang-orang yang menegakkan agama Islam, maka masyarakat sekitar kemudian menyebutnya sebagai qaaimuddin, yang diucapkan dengan lidah Jawa sebagai pakauman dan jadilah nama kampung ini lebih dikenal dengan istilah Kauman.

Lahirnya Kampung Kauman dimulai dengan adanya penempatan abdi dalem Pamethakan yang mempunyai tugas mengurusi masalah keagamaan. Nama kauman berasal dari pa-kaum-an, Pa berarti tempat, kaum dari kata qaaimuddin yang berarti penegak agama Islam. Jadi kauman adalah tempat para penegak agama/para ulama. Kampung Kauman pada jaman kerajaan merupakan tempat bagi 9 ketib atau penghulu yang ditugaskan kraton untuk membawahi urusan agama.

Dalam perkembangan lebih lanjut terciptalah komunitas santri dengan ikatan keagamaan dan kekerabatan. Tradisi kesantrian seperti dalam pendidikan, pergaulan, serta dalam kehidupan bermasyarakat dengan masjid sebagai pusatnya memberikan warna, nuansa, dan ciri khas tersendiri.

Kehidupan masyarakat Kauman sejak tahun 1900 sampai dengan tahun 1930 mempunyai kesetaraan ekonomi. Mata pencaharian bersumber pada jabatan sebagai abdi dalem Kraton Yogyakarta dan juga mempunyai penghasilan tambahan dari kerajinan batik. Pendidikan pokok masyarakat Kauman awalnya di pondok pesantren.

B. Keistimewaan

Salah satu keistimewaan yang dimiliki adalah dengan menyusuri gang-gang sempit ke arah barat daerah tersebut. Lebar jalannya yang hanya sekitar dua meter membuat kendaraan roda empat tidak dapat masuk, sementara roda dua hanya bisa dituntun. Menyusuri gang-gang Kampung Kauman harus berjalan kaki. Selain ada tanda dilarang memakai kendaraan yang dipasang di dekat gapura, jalan di Kauman sengaja dirancang agar menyulitkan kendaraan masuk. Perancangan itu bermaksud agar kebisingan tidak mengganggu kesibukan para santri belajar.

Di kanan-kiri gang, beragam bangunan dengan berbagai desain rancang bangunannya bisa ditemui di kawasan ini. Sejumlah rumah di kampung ini memiliki pintu, jendela, dan ruangan besar, serta ventilasi yang berhias kaca warna dengan pengaruh arsitektur Eropa. Gapura yang bagian atasnya berbentuk lengkung menjadi awal bangunan sebelum memasuki Kampung Kauman.

Kampung Kauman masa kini sudah tidak lagi memperlihatkan suasana tempo dulu. Meskipun pengajian masih rutin dilaksanakan di Masjid Kauman, dan suasana santri masih mendominasi kampung, namun sembilan langgar yang didirikan oleh ketib-ketib tersebut sudah tidak sepenuhnya berjalan, bahkan Ketib Amin milik KH Ahmad Dahlan, sudah lama tidak digunakan untuk pengajian.

C. Lokasi

Kawasan Kampung Kauman terletak di sebelah barat Alun-alun Utara Kraton Yogyakarta. Berada di Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Yogyakarta. Sebelah utara kampung ini dibatasi Jalan K.H.A.Dahlan, sebelah selatan dibatasi Jalan Kauman, sebelah timur dengan batas Jalan Pekapalan dan Jalan Trikora, di sebelah barat dibatasi Jalan Nyai Ahmad Dahlan atau dulu dikenal dengan Jalan Gerjen.

D. Akses

Dari titik nol kilometer di selatan kawasan Malioboro, berbelok ke kanan ke arah barat, melewati Jalan K.H. Ahmad Dahlan, kemudian di selatan jalan setelah RS PKU Muhammadiyah, Anda akan menemukan sebuah gapura. Masuk gapura tersebut, Anda sudah sampai di Kampung Kauman.

E. Harga Tiket

Untuk mengunjungi Kampung Kauman, sama sekali tidak dikenakan tiket apapun, karena keberadaan kampung ini layaknya pemukiman warga yang bisa dikunjungi siapa saja dan kapan saja. Jika berkunjung ke kawasan ini, bagi pengunjung yang beragama Islam, Anda bisa menjalankan sholat di Masjid Gede Kauman yang ada di kampung ini dan mengikuti sejumlah kegiatan keagamaan. Jika ingin mengetahui banyak tentang Masjid Gede Kauman, Anda juga bisa mendatangi kantor sekretariat.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Selain pemukiman warga, di Kampung Kauman ini juga terdapat sebuah Monumen ‘Syahid fi Sabilillah”, perpustakaan dan sebuah Masjid yaitu Masjid Gede Kauman. Di Kampung Kauman ini tepatnya di ujung barat jalan kampung, ada sebuah bangunan tua berlantai dua yang baru saja direnovasi Juli 2010 lalu. Bangunan ini banyak dikenal sebagai Langgar KH Ahmad Dahlan atau Langgar Ketib Amin.

Selain terdapat sekolah-sekolah, di kawasan ini juga terdapat sebuah Balai Pemuda Muhammadiyah Kauman, tempat pelatihan pengajian dan sejumlah penginapan serta kampung batik. Fasilitas olahraga untuk menunjang kegiatan bagi warga sekitar pun tersedia cukup memadai.


Teks :
Eko Wahyu
Foto : Koleksi Jogjatrip.com
(Data primer dan berbagai sumber)



Dibaca : 3237 kali.

Jika Anda dari luar Yogyakarta, dan ingin mengunjungi tempat ini dengan jasa travel biro,
silakan hubungi:

Maharatu Tour and Travel

Jl. Sisingamangaraja No. 27 Yogyakarta.
Telp. +62 274 8373005. Fax. +62 274 379250
Email : maharatu@maharatu.com -maharatu257@yahoo.com
Website : www.maharatu.com

Rating :
Jika Anda pernah mengujungi objek wisata ini, berikan rating dan komentar untuk menjadi perhatian Dinas Pariwisata atau pengelola obyek wisata setempat.


Share




Berikan komentar Anda !







Obyek lainnya

OBYEK WISATA





  • www.adicita.com
  • Pengunjung Online

           Online: 18
     Hari ini: 170
     Kemarin : 3.710
     Minggu lalu : 34.556
     Bulan lalu : 91.875
     Total : 3.575.096
    Sejak 20 Mei 2010