A. Selayang Pandang
Menginjakkan kaki di Kotagede, Kota Yogyakarta, seperti berada di masa Kerajaan Mataram Islam pada abad ke-16. Kotagede, wilayah kecil di selatan Kota Yogyakarta itu, dulu merupakan bekas pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Islam. Tak heran, banyak situs sejarah beserta mitos-mitosnya yang masih terpelihara sampai sekarang. Satu yang menarik dari sejumlah situs bernilai sejarah itu, adalah Watu Gilang. Situs Watu Gilang ini menjadi saksi atas kejayaan Kerajaan Mataram di bawah pimpinan Panembahan Senopati.
Watu Gilang dipercaya merupakan batu singgasana Panembahan Senopati yang berbentuk persegi dengan ukuran sekitar 2 x 2 meter berwarna hitam, tingginya 30 cm dan terletak di sebuah ruangan yang sengaja dibuat untuk melindungi batu ini. Di atasnya terdapat pahatan-pahatan tulisan dalam beberapa bahasa yang sudah tidak dapat terbaca lagi karena sudah terkikis. Oleh penduduk, batu ini dipercaya sebagai dampar atau singgasana Panembahan Senopati. Pada sisi timur batu ini terdapat kikisan seperti bekas pukulan sesuatu. Konon di batu ini pula, Panembahan Senopati mendapat wangsit melalui Lintang Johar. Batu andesit hitam ini dibawa dari Hutan Lipuro yang kini dikenal dengan daerah Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, DIY. Di atas singgasana batu inilah Kerajaan Mataram digerakkan oleh Panembahan Senopati.
Konon Ki Ageng Mangir, tokoh pemberontak kerajaan yang terpikat oleh putri raja bernama Ni Pembayun dan kemudian menikahinya. Ni Pembayun mengajak Ki Ageng Mangir menghadap ayahnya untuk merestui pernikahan mereka. Awalnya Mangir menolak karena bagaimanapun ia adalah buronan dan pengkhianat bagi Panembahan Senopati. Tapi di sisi lain Panembahan Senopati adalah mertuanya, tapi demi cintanya pada Ni Pembayun akhirnya Mangir memenuhi permintaan istrinya untuk menghadap Panembahan Senopati. Sesampai di Keraton Kotagede, pengawal melarang Mangir masuk karena masih membawa senjatanya yakni tombak Ki Baru Klinthing. Atas dasar etika kerajaan yang melarang membawa senjata bila menghadap raja, maka Mangir meletakkan senjatanya dan menghadap mertuanya untuk meminta restu. Namun karena sang raja begitu membencinya, seketika itu juga kepala Mangir dibenturkan ke dampar tempat duduknya hingga meninggal seketika. Pada sisi sebelah timur batu ini, terdapat cekungan yang konon muncul akibat dibenturkannya kepala Ki Ageng Mangir, musuh sekaligus menantu Panembahan Senopati.
B. Keistimewaan
Bangunan situs Watu Gilang ini dikelilingi pohon-pohon beringin dan sebuah pohon Mentaok rindang yang memberikan hawa sejuk. Di dalam bangunan inilah peninggalan bersejarah itu disimpan dalam ruangan berukuran 3×3 m di tengah pelataran yang dulunya berupa keraton. Menurut cerita yang dipercayai penduduk setempat, Watu Gilang ini merupakan singgasana raja pertama Mataram Islam Panembahan Senopati. Sekilas batu ini tidak tampak istimewa, hanya berupa batu andesit hitam berbentuk segi empat dalam sebuah bangunan yang terlihat usang, namun, batu ini menjadi barang "keramat" yang menarik perhatian orang untuk melihatnya secara langsung. Mereka tidak hanya sekadar melihat-lihat, tetapi juga mencari berkah. Situs Watu Gilang ini juga menjadi tempat orang untuk menjalankan ’lelaku’ atau semacam ritual terkait dengan kepercayaan tertentu.
C. Lokasi
Situs ini terletak di Jalan Watu Gilang, lokasinya kira-kira 1 km di sebelah selatan pasar dengan menyusuri jalan sisi barat, atau sekitar 300 m di selatan Makam Raja-Raja Mataram.
D. Akses
Situs ini bisa ditemukan dengan menyusuri jalan dari Pasar Kota Gede ke arah selatan kurang lebih 500 meter, melewati Kompleks Makam dan Masjid Agung Kotagede hingga sampai pada sebuah bangunan yang berdiri di tengah jalan.
E. Harga Tiket
Berkunjung ke kompleks situs watu gilang ini, Anda tidak perlu merogoh kocek untuk membeli tiket karena di lokasi ini tidak dikenakan biaya apapun alias gratis.
F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Makam Ki Ageng Mangir bisa ditemui di Kompleks Makam Kotagede yang memiliki keunikan tersendiri. Makam Ki Ageng Mangir sebagian berada di dalam benteng makam, sedangkan sebagian lainnya berada di luar benteng. Ini terjadi karena Ki Ageng Mangir yang dianggap musuh dalam selimut Kerajaan Mataram. Selain itu juga terdapat makam keluarga Hamengkubuwana VII, VIII, dan IX. Kompleks makam ini bernama Hasta Renggo, yang dibangun pada masa Hamengkubuwana VIII. Selain Watu Gilang, di kompleks situs ini juga terdapat Watu Gatheng, dan Watu Genthong.
Benda peninggalan terakhir yang ada di situs ini adalah Watu Genthong yang terbuat dari batu andesit berbentuk seperti gentong padasan dengan diameter 57 cm yang digunakan oleh Ki Juru Mertani dan Ki Ageng Giring, penasehat Panembahan Senopati, untuk mengambil air wudlu. Alangkah baiknya saat mengunjungi tempat ini Anda ditemani seorang juru kunci atau petugas yang mengelola lokasi ini.
Teks : Eko Wahyu
Foto : Koleksi Jogjatrip.com
(Data primer dan berbagai sumber)