English Version | Bahasa Indonesia
Daftar | Masuk Rabu, 16 April 2014

Tari Angguk

Photo by Yuhastina Naina

Rating : 1.5 ( 15 pemilih )

TARI ANGGUK

Alamat :

Koordinat GPS :

Share



A. Selayang Pandang

10 gadis cantik dengan 10 pengrawit (pengiring) yang berusia tidak lebih dari 25 tahun menari dengan gerakan seirama. Tarian yang mereka peragakan sangat serempak dan sarat makna simbolis. Kacamata hitam, kaos kaki, dan pakaian bercorak agak kebarat-baratan, menjadi kostum wajib yang dikenakan. Ditilik dari bentuk kostumnya, jelas terlihat ada perpaduan unsur militer di sini, lebih tepatnya kostum serdadu militer zaman penjajahan Belanda. Pada salah satu babak tarian, tiba-tiba seorang penari ndadi (kemasukan roh atau dalam istilah Tari Sufi disebut trance) yang mengubah suasana yang awalnya meriah menjadi lebih mistis.

Itulah sepenggal cerita pementasan pertunjukan Tari Angguk. Tari yang berasal dari Kulon Progo ini ditengarai merupakan pengembangan dari Tari Dolalak yang berasal dari Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Konon, istilah Dolalak diambil dari modus (tangga nada) diatonis Barat, Do Re Mi Fa Sol La Si. Melihat urutan tangga nada tersebut, maka nada Do dan La merupakan asal mula Tari Dolalak. Tidak begitu jelas siapa pihak yang membawa, mengkreasikan, dan kemudian mempopulerkan Tari Dolalak sehingga bisa berbentuk Tari Angguk dan diakui sebagai salah satu kebudayaan Kabupaten Kulon Progo.

Tari Angguk masuk ke Kulon Progo sekitar tahun 1950. Awalnya, tarian ini dimainkan sebagai tarian pergaulan para remaja dan biasa digelar setelah musim panen tiba sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan. Ketika masuk ke Kulon Progo, tarian ini dimainkan oleh kaum laki-laki. Tetapi sekitar tahun 1970, terjadi pergeseran sehingga dimainkan oleh kaum perempuan dengan dirintisnya beberapa kelompok kesenian Tari Angguk putri. Belum ditemukan keterangan yang jelas alasan perubahan penari tersebut. Faktor komersialisme dan hiburan barangkali menjadi tolok ukur perubahannya, karena tidak dapat dipungkiri bahwa dalam dunia hiburan penari perempuan lebih menarik jika dibandingkan dengan pria.

Kata “Angguk” ditengarai berasal dari gerakan para penari yang sering mengangguk-anggukan kepala. Gerakan Tari Angguk pada awalnya terinspirasi dari gerakan baris-berbaris serdadu Belanda. Maka tidak mengherankan jika kostum yang dipakai oleh para penari ini juga mirip dengan seragam serdadu Belanda.

Jenis Tari Angguk ada dua macam, yaitu jenis Tari Ambyakan dan Pasangan. Jenis Tari Ambyakan dimainkan oleh banyak orang, biasanya dimainkan lebih dari 20 orang. Sedangkan jenis Tari Pasangan dimainkan secara berpasang-pasangan (genap).Tari Angguk banyak menyisipkan ajaran moral dalam pementasannya, misalnya berbentuk pantun, petuah tentang kehidupan, dan pendidikan yang dilantunkan oleh para vokalis.

Dalam setiap penampilannya, Tari Angguk mengambil cerita dari Serat Ambiyo dengan kisah Umarmoyo-Umarmadi dan Wong Agung Jayengrono. Tari Angguk biasanya dimainkan dengan durasi waktu sekitar 3-7 jam. Jumlah penari selalu genap, berkisar antara 10-20 orang penari beserta pengrawit (pengiring). Akan tetapi dalam situasi tertentu, tarian ini bisa dikemas dalam paket singkat dengan durasi waktu sekitar 15-30 menit saja.

Instrumen pengiring pertunjukan Tari Angguk merupakan perpaduan antara kebudayaan Islam, Jawa, dan Barat. Instrumen tersebut antara lain: rebana, bedug, Kendang Batangan, Kendang Sunda, bass elektrik, snare drum, keyboard, cymbal, dan tamborin. Perangkat yang lain adalah vokalis yang terdiri dari 2 orang laki-laki dan 1 perempuan.

Penari Angguk mengenakan kostum yang mirip dengan serdadu Belanda. Kostum ini dilengkapi dengan gombyok berwarna emas, sampang, sampur, topi pet warna hitam, kaos kaki warna merah atau kuning, dan kacamata hitam.

Kesenian Tari Angguk biasa dipentaskan ketika ada hajatan, khitanan, dan pernikahan. Pementasan bisa dilakukan pada siang maupun malam hari. Pemerintah Kabupaten Kulon Progo selalu menampilkan kesenian Tari Angguk sebagai salah satu kekayaan budayanya setiap ada festival kesenian daerah, acara peresmian, maupun acara kebudayaan.

Sebelum pentas, sebuah kelompok kesenian Tari Angguk selalu melakukan ritual berupa pemberian sesaji di sekitar lokasi pentas. Dari sinilah aura mistis sebenarnya mulai terlihat. Aura mistis mencapai puncaknya ketika pertunjukan Tari Angguk menampilkan adegan ndadi yang dialami oleh salah satu penarinya. Penari yang sedang ndadi tersebut terkadang juga makan sesajen berupa kembang setaman (kembang tujuh rupa) atau minum air sesajen (sesaji).

B. Keistimewaan

Tari Angguk mempunyai keistimewaan karena memadukan unsur Islam, Barat (Belanda), dan Timur (Yogyakarta). Unsur Islam dalam Tari Angguk terlihat ketika lagu Shalawat Nabi selalu menjadi pembuka pertunjukan. Selain itu, penggunaan peralatan musik berupa bedug dan rebana semakin mengukuhkan bahwa kesenian ini memang mendapat pengaruh dari agama Islam.

Unsur Barat jelas terlihat pada gerakan para penari yang terilhami dari gerakan baris-berbaris yang dilakukan oleh para serdadu militer pada zaman Belanda. Selain gerakan, kostum yang dipakai oleh para penari juga mirip dengan seragam militer serdadu Belanda. Akan tetapi, terdapat sedikit perbedaan dengan tidak digunakannya celana panjang sebagaimana lazimnya seragam militer, tetapi diganti dengan celana pendek.

Unsur Timur sangat terlihat dalam Tari Angguk yang lebih menitikberatkan pada keluwesan gerakan. Tingkat keluwesan gerakan inilah yang menjadi ciri khas budaya Timur, khususnya untuk Daerah Istimewa Yogyakarta. Ditambah lagi, tarian ini membawakan cerita Umarmoyo-Umarmadi dan Wong Agung Jayengrono yang termaktub dalam Serat Ambiyo. Di sinilah kebudayaan dari beberapa kutub yang berbeda yang bisa berpadu. Sisi militer yang lebih kaku namun serempak dipadukan dengan tarian yang sangat luwes dan paduan peralatan dengan pengaruh Islam. Hasilnya adalah gerakan tari yang serempak, namun tetap menonjolkan sisi keluwesannya.

Tari Angguk juga memadukan unsur mistik ke dalam seni pertunjukan. Adanya babak ndadi dalam sebuah penampilan Tari Angguk sanggup mengubah suasana yang semula meriah menjadi mistis. Selain Tari Angguk, beberapa seni tradisional lain juga ada yang menggunakan media ndadi dalam penampilannya, misalnya saja Tari Jathilan.

C. Lokasi

Lokasi kelompok kesenian tradisional Tari Angguk tersebar di beberapa kecamatan di Kabupaten Kulon Progo, mulai dari Kecamatan Temon, Samigaluh, sampai Kokap. Nama beberapa kelompok kesenian tradisional Tari Angguk tersebut, misalnya Kelompok Kesenian Tradisional Tari Angguk Putri Puspa Rini dari Desa Kulur, Kecamatan Temon; Angguk Sri Lestari dari Dusun Pripih, Desa Hargomulyo, Kecamatan Kokap; dan Angguk Mekar Perwitasari dari Dusun Tlogolalo, Desa Hargamulyo, Kecamatan Kokap.

Salah satu kelompok kesenian tradisional Tari Angguk di Kulon Progo yang sudah cukup terkenal di tingkat nasional adalah Kelompok Kesenian Tradisional Angguk Putri Sri Lestari. Kelompok kesenian pimpinan Bp. R. Joko Mulyanto ini beralamat di Dusun Pripih, Desa Hargomulyo, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

D. Akses

Kesenian Tari Angguk biasa dimainkan dalam festival kebudayaan, khususnya yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Kulon Progo. Akan tetapi jika pengunjung ingin menyaksikan pementasan Tari Angguk, dalam hal ini Kelompok Kesenian Tradisional Tari Angguk Putri Sri Lestari, dapat datang langsung ke Dusun Pripih, Desa Hargomulyo, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Daerah ini bisa diakses dengan kendaraan pribadi, baik roda dua (2) maupun empat (4). Selain menggunakan kendaraan pribadi, pengunjung juga bisa memanfaatkan sarana angkutan umum dengan naik bus jurusan Yogyakarta-Wates, turun di Terminal Wates, kemudian naik angkutan umum (mobil angkutan ini kecil berwarna kuning yang masyarakat biasa menyebutnya colt atau colt tuyul) jurusan Kecamatan Kokap. Selain naik angkutan umum, pengunjung juga bisa menghubungi pengurus Kelompok Kesenian Tradisional Tari Angguk Putri Sri Lestari melalui nomor ponsel 08157934186.

E. Harga Tiket

Pengunjung yang menyaksikan pentas Tari Angguk tidak dikenakan biaya karena biasanya Tari Angguk dipentaskan dalam sebuah acara tertentu sehingga seluruh biaya ditanggung oleh pihak penyelenggara. Akan tetapi, jika pementasan dilakukan dalam sebuah pergelaran di suatu gedung, maka biasanya pengunjung akan dikenakan tiket masuk.

Biaya juga dikenakan kepada pengunjung apabila mempunyai permintaan khusus untuk mementaskan Tari Angguk (menanggap Tari Angguk), ketika tidak ada acara pentas bagi kelompok kesenian ini. Besarnya biaya tergantung dari kesepakatan antara pengunjung (penanggap) dan pemilik kelompok kesenian Tari Angguk.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Pengunjung yang akan menanggap Tari Angguk tidak perlu bersusah payah. Pengunjung cukup menyediakan biaya (ongkos untuk menanggap), sedangkan semua kelengkapan lainnya, mulai dari penari, vokalis, kostum, alat musik, hingga sound system sudah disediakan oleh kelompok kesenian ini.

Beberapa kelompok kesenian juga telah menyediakan paket singkat untuk satu kali pertunjukan. Biasanya paket singkat ini dikemas dalam durasi waktu sekitar 15-30 menit. Sedangkan untuk Kelompok Kesenian Tradisional Tari Angguk Putri Sri Lestari sanggup menyediakan penari hingga berjumlah 100 orang untuk sekali pentas.


Teks: Tunggul Tauladan
Foto:
Koleksi Jogjatrip.com
(Data primer dan berbagai sumber)



Dibaca : 13024 kali.

Jika Anda dari luar Yogyakarta, dan ingin mengunjungi tempat ini dengan jasa travel biro,
silakan hubungi:

Maharatu Tour and Travel

Jl. Gambiran No. 85 Yogyakarta 55161 - Indonesia.
Telp. 0274 8373005/ 0274 414233
Email : maharatu@maharatu.com - maharatu257@yahoo.com
Website : www.maharatu.com

Rating :
Jika Anda pernah mengujungi objek wisata ini, berikan rating dan komentar untuk menjadi perhatian Dinas Pariwisata atau pengelola obyek wisata setempat.





Obyek lainnya

OBYEK WISATA

  • Pengunjung Online

           Online: 1.075
     Hari ini: 4.490
     Kemarin : 7.923
     Minggu lalu : 53.360
     Bulan lalu : 261.206
     Total : 6.708.970
    Sejak 20 Mei 2010