
Semarang, Jogjatrip.com - Memperingati ulang tahun bisa dilakukan dengan berbagai cara seperti menggelar pesta, tumpengan, atau berwisata. Dari berbagai hal tersebut, Yayasan Cempaka Kencana (YCK) memilih melakukan wisata budaya ke Candi Gedong Songo sebagai perayaan hari jadi ke-18.
Wisata budaya ini digelar pada Minggu (4/12) di Candi Gedong Songo yang terletak di Desa Darum, Bandungan, Semarang. “Mengapa harus ke Candi Gedong Songo? Karena dari tempat ini saya bisa menulis Candi Gedong Songo dan dibukukan. Saya ingin menapak tilas,” kata Renville Siagian, Ketua YCK di sekitar Candi Gedong Songo I.
Candi Gedong Songo berada di lereng Gunung Ungaran. Candi ini memiliki ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Daerah sekitar candi dikelilingi pohon pinus dan memiliki pemandangan yang indah. Candi yang dibangun abad ke-9 ini menyerupai Candi Dieng di Wonosobo.
YCK sendiri merupakan organisasi yang bergerak dalam bidang budaya dan sastra nonprofit. Organisasi yang beralamat di Jl. Mantrijeron 11 Yogyakarta ini genap berusia 18 tahun pada 3 Desember 2011. Menandai ulang tahun tersebut, YCK melakukan pemotongan tumpeng pada Sabtu (3/12) malam. Sedangkan pada Minggu (4/12) diadakan acara wisata budaya ke Candi Gedong Songo yang mengundang sekitar 60 seniman dan sastrawan.
Dalam acara di Semarang ini, berbagai kegiatan bertema budaya digelar di bawah Candi Gedong Songo I. Para seniman dan sastrawan yang duduk lesehan beralaskan rumput mengikuti berbagai acara seperti musik dari Untung Basuki serta pembacaan puisi dari para penyair. Tampilnya para seniman dan sastrawan itu mengundang puluhan pengunjung candi. Mereka ikut mendengarkan lantunan musik dan pembacaan puisi. “Wah kalau saya tidak bawa rombongan, saya ikutan baca,” kata seorang pengunjung. “Boleh, mari silakan baca,” jawab peserta wisata. Tapi pengunjung itu cepat pergi karena akan melanjutkan perjalanan ke tempat lain.
Menurut Renville, kegiatan budaya dan sastra YCK akan digiatkan secara maksimal. Rumah di Jl. Mantrijeron akan dijadikan pusat kegiatan dan bisa mendukung kantong-kantong budaya yang tersebar di penjuru Yogyakarta. Salah satu program yang mendesak adalah menyiapkan buku Equator II yang akan beda dengan Equator I. Di samping itu, YCK juga akan menerbitkan majalah budaya yang terbit setiap tiga bulan sekali dengan tebal 100 halaman. “Equator II akan memuat cerita pendek di samping puisi,” jelas Renville.
Sementara Iman Budhi Santosa, Sekretaris YCK meminta kepada para budayawan dan sastrawan untuk mendukung penerbitan majalah budaya serta meramaikan markas YCK di Mantrijeron. “Dengan adanya YCK ini akan menambah ramainya kelompok-kelompok sastra yang bertebaran di Yogyakarta,” ucap Imam. *** (Teguh R Asmara)