English Version | Bahasa Indonesia
Daftar | Masuk Kamis, 24 Mei 2012

Sosok Kepemimpinan Lewat “Soegijapranata”

Sosok Kepemimpinan Lewat “Soegijapranata”

Garin Nugroho (kanan) dan para pendukung “Soegija” (Foto :Trasmara)
06 Desember 2011

Yogyakarta, Jogjatrip.com - Sutradara Garin Nugroho tak pernah kehabisan ide untuk selalu memberikan kejutan dalam membuat film. Kali ini Garin sedang merampungkan film dengan tema multikulturalisme dan nasionalisme yang diambil dari perjuangan seorang uskup bernama Mosignor Albertus Soegijapranata SJ (Mgr. Albertus Soegijapranata SJ).

Salah satu tempat yang menjadi setting dalam film ini mengambil lokasi di Gereja Bintaran. “Film ini sudah 90 % pengambilan gambar dan tinggal 10 % yang mengambil lokasi di Yogya. Film yag menghabiskan biaya Rp 12 miliar ini akan diputar di gedong bioskop pada bulan April atau Juni 2012,” kata Garin Nugroho di hadapan wartawan, Senin (5/12).

Gereja Bintaran yang dijadikan lokasi film Soegijapranata tampak dikondisikan oleh para kru untuk keperluan setting, baik di dalam gereja maupun di ruangan lain yang akan dijadikan kantor Soegijapranata. Selain di Gereja Bintaran, lokasi lain untuk syuting film ini adalah Semarang, Ambarawa, Klaten, dan Magelang. “Untuk mewujudkan kota Yogyakarta, saya lama ambil gambar di Klaten. Sedang setting stasiun Toegoe, saya mengambil lokasi di stasiun KA Ambarawa,” kata sutradara yang melejit namanya usai menggarap film Tjut Nya Dien.

Menurut Garin, film ini menceritakan sosok Soegijapranoto, seorang Uskup Agung pertama dari kalangan bumiputera yang berperan besar dalam perjuangan melawan penjajah Jepang dan Belanda. Uskup yang semula bertugas di Semarang ini harus pindah ke Yogyakarta karena pecah perang.

Setting film ini berkisar antara tahun 1940-1950 atau ketika Indonesia sedang dijajah oleh Jepang dan Belanda. Soegijapranata yang kala itu telah menjadi uskup, setelah resmi ditahbiskan pada 6 November 1940, merupakan sosok agamawan yang memiliki kemampuan memimpin dan memandu umat di tengah perjuangan melawan penjajah. “Dua hal itu jarang dimiliki sekaligus oleh siapapun. Ini keistimewaan dan butuh pemandangan lintas kultural,” kata Garin.

Film ini didukung oleh 9 pemain utama, antara lain Nirwan Dewanto, Butet Kertaradjasa, Olga Lydia, serta 160 kru. Dukungan tersebut sangat berguna untuk menopang tujuan film ini yang mengambil latar perang tetapi berbicara tentang kemanusiaan. Di samping cerita yang kuat dan dukungan pemain, kekuatan lain dari film ini adalah unsur-unsur seni rupa berupa setting dan pencahayaan. “Film ini memang pantas ditonton untuk anak-anak SMP dan SMA,” ujar Garin.

Soegijapranata bukan film agama, namun sebuah film yang memiliki unsur relegiusitas secara luas, di mana dialog manusia lebih utama dalam memimpin umat manusia. Sebagai pemimpin, perjuangan Soegijapranata berbanding lurus dengan Soekarno. Oleh karena itu, sebagai wujud penghargaan atas perjuangan tersebut, Soegijapranata telah diangkat menjadi pahlawan nasional berdasarkan SK Presiden RI. no. 152 tahun 1963 tertanggal 26 Juli 1963. Beliau juga dimakamkan di TMP Giritunggal, Semarang. *** (Teguh R Asmara)



Share



Dibaca : 440

Berikan komentar Anda !



OBYEK WISATA





  • www.adicita.com
  • Pengunjung Online

           Online: 590
     Hari ini: 3.481
     Kemarin : 3.710
     Minggu lalu : 34.556
     Bulan lalu : 91.875
     Total : 3.578.407
    Sejak 20 Mei 2010