
Yogyakarta, Jogjatrip.com -- Kebudayaan adalah pilar pembangunan bangsa, sedangkan bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai kebudayaannya. Bermula dari pemikiran tersebut, penyelenggaraan Dialog Budaya dan Gelar Seni “Yogya Semesta” seri-46 ini mengambil tajuk “Strategi Kebudayaan Membangun Karakter Bangsa Menuju Kesejahteraan”. Dialog yang bertempat di Bangsal Kepatihan ini bertujuan untuk menjaring aspirasi, gagasan, dan pemikiran segenap pemangku budaya agar dapat berkonstribusi secara positif bagi pembangunan nasional.
Acara Dialog “Yogya Semesta” yang dihelat pada Selasa, (6/12) dibuka oleh Hari Dendi selaku pengasuh komunitas budaya “Yogya Semesta”. Sejumlah tokoh masyarakat hadir dalam acara yang digelar tiap Selasa wage tersebut, mereka antara lain: Mahyudin Al Mudra SH., MM. (Budayawan, pendiri Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu), Dr. Hari Untoro Drajat, Prof. Dr. Rochmad Wahab MSc., dan Indra Tranggono. Narasumber utama dalam acara ini adalah Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu Prof. Ir. Wiendu Nuryati March Ph.D.
Narasumber utama sengaja dihadirkan dari kalangan Kementerian Pendidikan karena dialog ini ingin memberikan wacana bahwa kesadaran berbudaya sangat penting untuk dimulai dari jenjang pendidikan. Hal ini sangat sesuai dengan kondisi Yogyakarta yang selain dikenal sebagai kota pelajar, juga sekaligus sangat lekat dengan predikat kota budaya. Kekuatan inilah yang nantinya dinilai sanggup untuk memainkan peran strategis dalam pengembangan kebudayaan nasional.
Kombinasi antara pendidikan dan kebudayaan akan tercermin dalam suatu sinergi antara pelajar/mahasiswa dengan budayawan. Gagasan utamanya adalah mengumpulkan berbagai ide dari para budayawan. Dari gagasan ini maka akan muncul suatu rumusan yang berujung pada terciptanya suasana kehidupan masyarakat yang bermartabat dan mandiri (sejahtera), termasuk di dalamnya pada unsur pendidikan.
Selain pembahasan strategi kebudayaan, dialog ini juga menampilkan pagelaran tari yang bertajuk “Sesaji Rajasurya” yang diiringi oleh kolaborasi antara karawitan ISI dengan SMKI pimpinan Drs. Trusto, M. Hum dan Drs. Sunardi. Tarian ini menggambarkan karakter dan cerita dalam kisah pewayangan. “Pemimpin harus mampu menjadi ksatriya, yaitu menjadi pengayom dan pencerah bagi masyarakat” kata Dr. Bambang Pudjasworo, M.Hum, selaku penata tari tersebut. (Indra Jati Prasetiyo)