
Yogyakarta, Jogjatrip.com - Setelah 40 tahun meninggalkan Yogyakarta, Mien Brodjo, artis film di tahun 60-an ingin kembali ke Yogyakarta. Nenek berambut putih dan bercucu tiga ini, Kamis (8/12) malam ikut membaca puisi di sela-sela Kongres ke-XX Tamansiswa yang dihelat di Pendopo Tamansiswa, Jalan Tamansiswa nomor 25, Yogyakarta.
Artis yang juga sekaligus mantan atlet loncat indah dalam Asian Games ini membaca puisi “Jonggrang Air Mata” yang ditulis spontan. Selain Mien Brodjo, para alumnus Tamansiswa juga ikut membaca puisi secara spontan pula. “Biarlah mereka yang sedang mengikuti kongres, di sini kita baca puisi. Karena kebudayaan tak disentuh dalam kongres,” kata Syahnagra, seorang pelukis sekaligus alumni Tamansiswa.
Dalam pembacaan puisi secara spontan tersebut, tampak BRAy Angling Kusumo dan beberapa mahasiswa dari Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST). Selain membaca puisi karya pribadi, ada juga yang membacakan puisi-puisi buah karya WS Rendra, Goenawan Mohamad, Kirjomulyo, atau Sapardi Djoko Damono. “Tadi saya buat puisi secara spontan dan saya senang dengan Loro Jonggrang,” kata Mien Brodjo yang ditemui Jogjatrip.
Loro Jonggrang di mata Mien Brodjo merupakan sosok wanita yang sangat kuat berpegang pada prinsip ketegaran. Ketegaran tersebut dibuktikan oleh Roro Jonggrang dengan tetap mempertahankan kewanitaannya ketika akan dinikahi oleh Bandung Bondowoso. Akibat berpegang kuat pada prinsip ketegaran ini, Roro Jonggrang bahkan rela menjadi batu. “Prinsip ini yang saya sukai,” ujar Mien.
Pemilik nama lengkap Mien Sukatminah Brodjoewiryo yang lahir di Yogyakarta 8 Maret 1937 ini, memulai karir dari teater Sanggarbambu. Ia terjun ke dunia film dan tampil menjadi peran pembantu pada film “Tangan-tangan yang Kotor” di tahun 1963. Empat tahun berselang, Mien mendapatkan peran utama dalam film “Mutiara Hitam”. Peran utama yang didapatkan Mien pada 1967 tersebut menjadi pintu masuk baginya ke dunia keartisan. Sejak saat itu, Mien tercatat telah membintangi puluhan film.
Kini, di usia senja, Mien masih aktif di dunia keartisan dengan membintangi beberapa sinetron. Selain tampil di layar kaca, pada waktu senggang, Mien Brodjo selalu melukis. Goresan cat di atas kanvas bisa menjadi bunga, pemandangan, atau penari Bali. “Saya senang lukisan realis. Dulu saya senang melukis pemandangan karena syuting di alam. Tapi kini banyak melukis bunga dan orang,” katanya.
Bagi Mien Brodjo, meskipun lukisannya aliran realis bukan berarti melukis daun harus dengan warna hijau, karenanya ia sesukanya memberi warna. Tapi yang pasti Mien Brodjo tidak suka melukis bencana atau menggambarkan kesengsaraan orang. “Saya tak senang melukis Gunung Merapi meletus. Saya suka yang romantis. Ini sifat perempuan,” katanya.
Mien Brodjo ingin kembali lagi ke Yogyakarta, tempat kelahirannya. Suasana Yogyakarta yang ramah tak bisa ditemui di Jakarta. Ia nantinya bisa menghasilkan karya berupa lukisan, bahkan menggelar pameran di Yogyakarta. “Saya ingin kembali ke sini, tapi entah kapan,” kata Mien Brodjo *** (Teguh R Asmara)