
Yogyakarta, Jogjatrip.com - Inspirasi dalam menciptakan lagu bisa muncul dari mana saja, misalnya saja dari merenung, berinteraksi dengan alam, bahkan dari hal yang sepele. Pilihan terakhir tersebutlah yang bagi Aloysius Untung Basuki sering menjadi inspirasinya dalam menciptakan karya. “Saya waktu mencipta lagu 'Lepas-lepas' ketika diminta oleh mas Rendra untuk mengantarkan babu (pembantu) dengan kereta api. Entah mengapa saya bisa menciptakan lagu itu. Perasaan saya begitu lepas karena stres latihan drama yang begitu padat,” kata Untung Basuki di tengah diskusi seni dan pertunjukan bertajuk “Merayap Waktu” di Bentara Budaya Yogyakarta, Jumat (16/12) malam.
Untung Basuki adalah pria kelahiran Yogyakarta, 12 Maret 1949 yang dikenal piawai menciptakan lagu puisi. Kepiawaian tersebut ditampilkan oleh Untung pada pertunjukkan yang digelar Jum'at malam itu di Bentara Budaya. Petikan gitar yang terkesan tegas, ditambah dengan suara khas seorang Untung yang agak serak, dan berpadu dengan irama harmonika mampu menyihir penonton hingga mendapatkan aplaus meriah. Meskipun dari segi busana penampilan Untung tak terlampau istimewa karena hanya mengenakan baju hitam, celana jean, serta rambut putihnya yang terurai, namun karya yang dinyanyikan oleh Untung merupakan masterpiece, misalnya lagu “Bunga-bunga” atau “Kuda Putih”.
Beberapa teman dekat Untung mengatakan, lagu-lagu puisi Untung memang memiliki ciri yang khas. Jika dinyanyikan oleh orang lain rasanya lagu itu kurang pas, tapi jika yang membawakan Untung Basuki sendiri, rasanya lagu itu hidup. “Maka sudah saatnya Untung Basuki harus dipelihara dan kalau nanggap harus bayar,” ujar Harjanto Sahid, seorang penyair dan dramawan ketika diminta oleh moderator Samuel Indranata untuk memberikan kesan-kesan tentang Untung.
Semula, pria yang dibesarkan lewat Bengkel Teater pimpinan WS Rendra di tahun 70-an ini memang tidak pandai memainkan gitar. Kepandaian bermain gitar ditemukan oleh Untung secara kebetulan ketika ada gitar tak terpakai di tempat latihan. Seperti lazimnya orang yang baru belajar, di awal latihan bermain gitar, petikan gitar Untung sangat buruk. Namun berkat kerja keras dan ketekunan, Untung menjelma menjadi sosok pemain gitar yang handal dan tak jarang tampil dalam pentas-pentas Bengkel Teater yang mengandalkan lagu.
Lepas dari Bengkel Teater, Untung Basuki berusaha membentuk kelompok musik hingga masuk ke dalam Sanggar Bambu (Sabu). Kebetulan pada pementasan Jum'at malam itu, Sabu juga hadir dan membawakan karya Untung, “Merayap Waktu” dan “Mahakam I'. “Lagu Mahakam saya ciptakan ketika saya berada di Samarinda. Waktu itu saya sedang di tepi sungai Mahakam yang luas dengan ada tumbuhan rumput yang berbunga,” kata suami Sri Sukapti ini.
Bagi Untung, menciptakan lagu puisi adalah jalan hidupnya. Menurut Untung, membawakan lagu puisi itu berbeda dengan musikalisasi puisi. Musikalisasi itu bersifat temporer dan melayani kegiatan program tertentu dan bisa dilupakan pemainnya. Tapi lagu puisi lebih tahan lama dan memiliki ruh yang dalam.*** (Teguh R Asmara)