
Yogyakarta, Jogjatrip.com - Agustina Tri Wahyuningsih atau lebih akrab dipanggil Tina (34) adalah sosok yang tidak pernah bisa diam. Pembawaan yang kalem, khas perempuan Jawa, namun punya banyak aktivitas dan ide yang terus bermunculan. Mulai dari membuat boneka ala Jepang, membuat tas dan kaos, lukisan di atas papan kayu dan yang terbaru saat ini adalah karya-karya bonekanya. Karya terbaru inilah yang kini tersaji dalam pameran tunggal Tina di Via Via Cafe, Jl. Prawirotaman 30, Yogyakarta, sejak 22 Desember 2011 - 12 Januari 2012.
Menurut Tina, pameran bertajuk “Negeri Dongeng yang Empuk” ini adalah ide yang sudah lama ada di pikirannya dan baru terealisasi sekarang. Masalah waktu memang menjadi kendala utama untuk merealisasikan ide tersebut. Namun kini, Tina berhasil mewujudkan ide karena telah memiliki waktu senggang di sela-sela merawat putri cantik pertamanya, Kaysha yang baru berusia 18 bulan.
Memiliki Kaysha saat ini semakin menginspirasi Tina bertekun di dunia bonekanya. Sedangkan mendampingi Edo Pillu, sang suami yang dikenal sebagai perupa, juga pengalaman kerja dan pergaulannya di lingkaran seni rupa Yogyakarta sedikit banyak memberinya ide-ide segar untuk karyanya. Tina memang hobi dengan hal-hal yang berkenaan dengan dekorasi, kain katun, dunia dongeng, dan ilustrasi di dalamnya. Kombinasi dari latar belakang dan hobinya tersebut, jadilah karya-karya yang berkarakter Tina.
Karya-karya Tina memang memiliki karakter yang khas. Mengutip testimoni dari seorang sahabat sekaligus konsumen Tina, Maria Carmelia yang menggambarkan bagaimana kecenderungan karya Tina mulai dari soal selera, tipe dan warna, maka, meskipun di luar sana, mungkin ada produk-produk yang mirip dan sudah lebih dulu muncul, tetapi karya Tina yang kemudian dilabeli “jahitangan” memiliki kekhasan ala Tina. Cek saja dari pilihan karakter motif kain, jenis kain, dan figur boneka yang ia buat, itu khas Tina.
Bagi Tina, pekerjaan yang terkonotasi domestik ini merupakan pelampiasan dari ide-ide unik dan kreatif, di samping itu ia bisa bermain dan bereksplorasi di dalamnya. Menumpahkan sebuah dongeng dan figur-figur bermotif kontemporer dalam sebuah boneka. Media ini dipilih oleh Tina karena boneka adalah benda yang mengantarkan kita bermain, berkesan lucu, imut, dan hampir semua kalangan umur menikmatinya, mulai dari kanak-kanak hingga orang dewasa.
Pameran “Mimpi Dunia Empuk” ini mencoba mengantarkan kita pada imajinasi-imajinasi yang melanglang jauh dan membuat kita lebih nyaman dengan dongeng-dongeng yang diciptakan. “Dan yang jelas ingin, Saya ingin boneka karya saya ini tidak hanya sebagai bantal, tapi dia mampu menjadi bagian dari karya yang bisa berada di mana saja, dinikmati siapa saja. Saya ingin mengajak semua penikmat bermain-main di dunia empuk”, ujar Tina. *** (Teguh R Asmara)