
Magelang, Jogjatrip.com - Pengunjung Candi Borobudur meningkat pada liburan akhir Desember 2011. Sepanjang tahun 2011 sampai Desember, pengunjung Candi Borobudur diperkirakan mencapai 2 juta orang. Jumlah pengunjung pada tahun 2011 tersebut ternyata mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2010 yang mencapai 2,4 juta orang.
“Penurunan wisatawan asing dan nusantara yang datang ke Borobudur karena adanya banjir lahar dingin dan memutuskan jalan raya Yogyakarta-Magelang. Ini menyebabkan wisatawan harus memutar jalan yang mengakibatkan penurunan jumlah pengunjung,” kata Pujo Suwarno, General Manager Candi Borobudur ketika ditemui Jogjatrip, Selasa (27/12) di kantornya.
Candi Borobudur yang dibangun tahun 824 Masehi oleh Raja Samaratungga, salah satu raja Mataram Kuno keturunan wangsa Syailendra, berukuran 123 X 123 meter, memiliki 1.460 relief, dan 504 stupa Budha. Menurut Pujo, keberadaan candi ini sekarang menjadi tanggung jawab kita bersama, yakni pemerintah dan masyarakat untuk menjaga, melestarikan, dan memelihara. Oleh karena itu, kita perlu memberi apresiasi pada wisatawan yang berkunjung ke Candi Borobudur.
“Sejak tahun 2009, kami telah mencanangkan setiap wisatawan yang akan naik candi harus menggunakan sarung/kain batik. Masuk tempat peribadatan kan harus rapi. Banyak wisatawan yang mengenakan celana pendek kan tidak etis. Maka diminta memakai sarung batik yang dipinjamkan secara cuma-cuma” papar Pujo.
Sekarang ini terdapat persediaan sarung batik sebanyak 15.000 lembar. Jika persediaan tidak mencukupi, maka pengunjung harus menunggu. Tetapi bila turun hujan, pengunjung diperbolehkan tidak memakai sarung batik. “Kan repot kalau basah semua. Ini darurat dan diperbolehkan,” kata Pujo.
Pujo beralasan bahwa batik adalah warisan leluhur kita yang harus dilestarikan, maka memakai sarung batik untuk naik ke atas candi sama saja dengan melestarikan batik itu sendiri. Diakui oleh Pujo, waktu pertama kali dicanangkan bahwa wisatawan harus memakai sarung batik, muncul banyak pro dan kontra. Tapi akhirnya wisatawan menyadari betapa pentingnya melestarikan budaya, apalagi menggunakan sarung batik tidak dikenakan biaya.
Bagi anak-anak dan rombongan siswa yang mengenakan seragam pramuka memang tidak diwajibkan memakai sarung batik, namun guru pendamping diharuskan memakai sarung batik. “Pramuka dan siswa yang memakai seragam sekolah tidak perlu pakai sarung batik, “ ujar penjaga di bagian informasi Candi Borobudur.
Melihat Candi Borobudur sebenarnya tidak harus dari dekat. Ada tempat-tempat strategis dari kejauhan seperti di bukit Puntuk Setumbu atau dari Karangrejo. “Dari kejauhan Candi Borobudur lebih eksotik,” tandas Pujo. Selain itu tersedia juga paket “Tilik Desa” di mana para wisatawan akan diperkenalkan ke desa dan melihat pembuatan kerajinan. “Saya ingin para wisatawan tidak singgah di sini hanya beberapa jam saja, tapi juga harus menginap melihat Borobudur secara luas,” papar Pujo. *** (Teguh R Asmara)