English Version | Bahasa Indonesia
Daftar | Masuk Kamis, 24 Mei 2012

Harmonisasi Ekonomi, Budaya, dan Religi dalam Sekaten

Harmonisasi Ekonomi, Budaya, dan Religi dalam Sekaten

Tari Nyawiji yang dibawakan siswa SMKI (Foto : Trasmara)
29 Desember 2011

Yogyakarta, Jogjatrip.com - Tari Nyawiji yang dibawakan siswa-siswa SMKI mempesona ribuan penonton yang memadati pembukaan PMPS (Pasar Malam Perayaan Sekaten) di Alun-alun Utara, Rabu (8/12) sore. Tari Nyawiji merupakan tarian yang menggabungkan unsur keislaman dan tarian tradisional Badui. Berdurasi sekitar 20 menit, Nyawiji mampu menyajikan tontonan menarik karena memiliki beragam gerak.

Pembukaan PMPS ditandai dengan pemukulan kenong oleh Sultan Hamengku Buwono X yang didampingi Walikota Yogyakarta Haryadi Sayuti, sementara GKR Hemas memotong buntal. Acara kemudian dilanjutkan dengan peninjauan stand di lokasi penyelenggaan PMPS. “Kekhasan Sekaten ialah pesta rakyat dengan harmoni ekonomi, budaya dan religi,” kata Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X dalam sambutan pembukaan.

Dalam sambutannya, Gubernur DIY tersebut memaparkan bahwa pendiri Kota Yogyakarta telah mencanangkan Catur Sagotra yang menggambarkan keselarasan antara religi, ekonomi, dan budaya. Perwujudan itu dibentuk dengan adanya Pasar Beringharjo sebagai pusat ekonomi, sedang Masjid Gede sebagai simbol religi, dan Kraton Yogyakarta sebagai simbol budaya. Unsur inilah yang menyatu dalam Sekaten di ruang publik Alun-alun Utara.

Sekaten yang bertema “Harmoni Ekonomi, Budaya, dan Religi” ini menurut Walikota Yogyakarta, Haryadi Sayuti, merupakan perwujudan nguri-uri budaya Jawa. Sekaten yang diadakan setiap tahu merupakan perwujudan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. “Sekaten merupakan pusaka budaya yang harus diuri-uri, dilestarikan seiring dengan kemajuan jaman,” kata Haryadi pada pembukaan Sekaten.

Pelaksanaan Sekaten yang bersamaan dengan pergantian tahun ini dipastikan akan ramai. Oleh karena itu, panggung kesenian di arena Sekaten menyajikan berbagai macam pentas, seperti: “Anak Ceria” pukul 16.00 - 17.00, pentas musik religi dan tausiah pukul 18.00-19.00, pentas wayang kulit pada 31 Desember, parade potensi seni wilayah, keroncong, parade busana muslim, dan ketoprak.

Sekaten akan ditandai dengan miyos gongso gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Nogo Wilogo dari Kraton menuju Masjid Gede Kauman pada 29 Januari 2012. Gamelan Sekaten akan dibunyikan di Pagongan pada 29 Januari - 4 Februari 2012. Pada 4 Februari malam, Gamelan Sekaten akan dikembalikan ke Kraton. Sebelum gamelan dikembalikan, Sultan atau kerabat Kraton menyebar udik-udik berupa uang logam kepada masyarakat. Pada 5 Februari 2012 adalah puncak perayaan Sekaten yang ditandai dengan keluarnya Gunungan dari Kraton menuju Masjid Gede Kauman. *** (Teguh R Asmara)



Share



Dibaca : 329

Berikan komentar Anda !



OBYEK WISATA





  • www.adicita.com
  • Pengunjung Online

           Online: 649
     Hari ini: 3.557
     Kemarin : 3.710
     Minggu lalu : 34.556
     Bulan lalu : 91.875
     Total : 3.578.483
    Sejak 20 Mei 2010