
Bantul, Jogjatrip.com -- Kelompok seni rupa “Deka-Exi(s)” yang beranggotakan mahasiswa pascasarjana ISI Yogyakarta angkatan 2011, akan mengadakan pameran pada 9-15 Januari 2012 di UPT Galery ISI Yogyakarta. Menurut rencana, pameran ini akan dibuka oleh Prof. Drs. M. Dwi Marianto, MFA, PhD pada pukul 19.30 WIB.
Dalam bahasa Yunani, “Deka” berarti angka 10 dan “Exi” berarti angka 6 yang jika ditambahkan huruf (s) maka dapat diartikan ke-16. Angka tersebut merujuk pada jumlah anggota Kelompok seni rupa “Deka-Exi(s)”.
Pameran kali ini mengangkat tema “Addict & Contradict”. “Addict” dapat diartikan sebagai pecandu, sedangkan “Contradict” berarti bertentangan (perbedaan). Berangkat dari tema ini, kelompok “Deka-Exi(s)” bermaksud memantapkan diri menjadi “para pecandu” yang akan selalu menghayati hidup dari keragaman dunia seni rupa dalam kebersamaan.
Tema “Addict & Contradict” dipilih karena mampu menarik perhatian dan dapat memancing hadirnya ide kreatif berikut rasa penasaran publik atau masyarakat secara umum. Pameran ini menyajikan keberagaman bentuk visual berikut konsepsi dari setiap personalnya, yang secara umum menggambarkan tentang kegelisahan diri seperti masalah keberadaan (eksistensi), romantisme, bahkan hingga pada persoalan kritik realitas sosial (baik isu-isu lokal dan nasional) yang berkaitan dengan masalah isu-isu kekinian.
Kelompok “Deka-Exi(s)” menyajikan berbagai dimensi bentuk yang secara umum merupakan karya-karya konvensional dan beberapa di antaranya mengarah pada karya seni rupa eksperimental. Kenyataan tersebut menjadi ukuran awal bagi para penyaji dan para menikmat guna mengarungi wahana visual yang dihadirkan.
Secara keseluruhan kelompok “Deka-Exi(s)” berupaya mempresentasikan hasil karya yang merupakan proses akumulasi “pemikiran” dan “rasa” selama dalam proses pendidikan formal. Mereka berusaha menggali “candu-candu baru” sebagai doping guna meningkatkan semangat berkesenian yang beragam, dibalik fakta eksternal yang banyak mempertanyakan nilai-nilai dan makna-makna yang mungkin “berlawanan” atau “perlawanan”. Singkatnya, para penikmat bukan hanya ingin menikmati wahana estetika visual dan wacana pemikiran yang disajikan, namun mereka berharap adanya ruang dialog yang menguji - “apakah mereka sejatinya 'para pecandu' di dunia seni rupa yang sebenarnya?”, mengingat para penyaji merupakan mahasiswa penciptaan seni rupa pascasarjana yang sedang belajar meningkatkan strata “rasa candu” yang selama ini telah dimiliki. *** (Teguh R Asmara)