English Version | Bahasa Indonesia
Daftar | Masuk Kamis, 24 Mei 2012

Kelompok “Deka-Exi(s)” Pameran “Addict & Contradict”

Kelompok “Deka-Exi(s)” Pameran “Addict & Contradict”

Salah satu lukisan peserta pameran Deka-Exi(s) (Foto: Ist)
10 Januari 2012

Bantul, Jogjatrip.com -- Kelompok seni rupa “Deka-Exi(s)” yang beranggotakan mahasiswa pascasarjana ISI Yogyakarta angkatan 2011, akan mengadakan pameran pada 9-15 Januari 2012 di UPT Galery ISI Yogyakarta. Menurut rencana, pameran ini akan dibuka oleh Prof. Drs. M. Dwi Marianto, MFA, PhD pada pukul 19.30 WIB.

Dalam bahasa Yunani, “Deka” berarti angka 10 dan “Exi” berarti angka 6 yang jika ditambahkan huruf (s) maka dapat diartikan ke-16. Angka tersebut merujuk pada jumlah anggota Kelompok seni rupa “Deka-Exi(s)”.

Pameran kali ini mengangkat tema Addict & Contradict. Addict dapat diartikan sebagai pecandu, sedangkan Contradict berarti bertentangan (perbedaan). Berangkat dari tema ini, kelompok “Deka-Exi(s)” bermaksud memantapkan diri menjadi “para pecandu” yang akan selalu menghayati hidup dari keragaman dunia seni rupa dalam kebersamaan.

Tema Addict & Contradict dipilih karena mampu menarik perhatian dan dapat memancing hadirnya ide kreatif berikut rasa penasaran publik atau masyarakat secara umum. Pameran ini menyajikan keberagaman bentuk visual berikut konsepsi dari setiap personalnya, yang secara umum menggambarkan tentang kegelisahan diri seperti masalah keberadaan (eksistensi), romantisme, bahkan hingga pada persoalan kritik realitas sosial (baik isu-isu lokal dan nasional) yang berkaitan dengan masalah isu-isu kekinian.

Kelompok “Deka-Exi(s)” menyajikan berbagai dimensi bentuk yang secara umum merupakan karya-karya konvensional dan beberapa di antaranya mengarah pada karya seni rupa eksperimental. Kenyataan tersebut menjadi ukuran awal bagi para penyaji dan para menikmat guna mengarungi wahana visual yang dihadirkan.

Secara keseluruhan kelompok “Deka-Exi(s)” berupaya mempresentasikan hasil karya yang merupakan proses akumulasi “pemikiran” dan “rasa” selama dalam proses pendidikan formal. Mereka berusaha menggali “candu-candu baru” sebagai doping guna meningkatkan semangat berkesenian yang beragam, dibalik fakta eksternal yang banyak mempertanyakan nilai-nilai dan makna-makna yang mungkin “berlawanan” atau “perlawanan”. Singkatnya, para penikmat bukan hanya ingin menikmati wahana estetika visual dan wacana pemikiran yang disajikan, namun mereka berharap adanya ruang dialog yang menguji - “apakah mereka sejatinya 'para pecandu' di dunia seni rupa yang sebenarnya?”, mengingat para penyaji merupakan mahasiswa penciptaan seni rupa pascasarjana yang sedang belajar meningkatkan strata “rasa candu” yang selama ini telah dimiliki. *** (Teguh R Asmara) 



Share



Dibaca : 181

Berikan komentar Anda !



OBYEK WISATA





  • www.adicita.com
  • Pengunjung Online

           Online: 653
     Hari ini: 3.615
     Kemarin : 3.710
     Minggu lalu : 34.556
     Bulan lalu : 91.875
     Total : 3.578.541
    Sejak 20 Mei 2010