English Version | Bahasa Indonesia
Daftar | Masuk Kamis, 24 Mei 2012

Bekakak Dikawal Gendruwo dan Ogoh-ogoh

Bekakak Dikawal Gendruwo dan Ogoh-ogoh

Sepasang Bekakak yang akan dibawa ke Gunung Gamping (Foto: ist)
11 Januari 2012

Sleman, Jogjatrip.com – Upacara adat Saparan Bekakak di Ambarketawang, Gamping, Sleman akan dilangsungkan pada Jumat (13/1) pukul 14.00 WIB. Menurut rencana, acara ini akan dimeriahkan kirab budaya dari Balai Desa Ambarketawang menuju Gunung Gamping melalui jalur Ring Road Barat. Kirab budaya dimeriahkan dengan prajurit bregodo, ogah-ogoh, gendruwo dan wewe gombel.

Menurut Frans Haryono, Ketua Panitia adat Saparan, sebelum diadakan Saparan Bekakak, pada Kamis (12/1) malam diawali dengan kenduri di lokasi penyembelihan Bekakak. Selanjutnya dilakukan pengambilan Tirto Dono yang dipimpin Lurah Magersari di Umbul Tlogosari. Air yang dimasukan dalam lima periuk ini kemudian diarak menuju Kademangan Ambarketawang bersama sepasang Bekakak yang terbuat dari beras ketan yang di dalamnya berisi sirup.

Arak-arakan tersebut nantinya dikawal Prajurit Wirosuto dan para santri sambil melantunkan puji-pujian dan sholawat Nabi. Pada malam hari, di Balai Desa Ambarketawang diadakan malam midodareni dan pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Ir. Surono, M. Psi. “Pagelaran wayang kulit ini semalam suntuk, “ kata Frans Harono pada Jogjatrip. Kemudian pada Jum’at ditampilkan uyon-uyon, beksan gambyong dan Tari Gendruwo. Acara dilanjutkan dengan penyembelihan sepasang Bekakak pada pukul 14.00 WIB di Gunung Gamping.

Saparan Bekakak ini telah dilaksanakan sejak pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I. Pada waktu itu, Ki Wirosuto, seorang abdi dalem Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat ditugasi menggali batu kapur untuk keperluan pembangunan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Bersama masyarakat di sekitar Gunung Gamping, Ki Wirosuto beramai-ramai menggali batu kapur.

Penggalian tersebut tampaknya tidak berjalan lancar karena sering menimbulkan korban jiwa, termasuk Ki Wirosuto. Sultan Hamengku Buwono I kemudian bersemedi sebagai upaya mencari keselamatan. Dalam semedi tersebut, beliau mendapatkan wangsit untuk memberikan tumbal berupa sepasang pengantin agar masyarakat dapat selamat. Namun, berkat kepandaian Sri Sultan, tumbal tersebut diganti dengan boneka yang terbuat dari beras ketan. Maka sejak itu, pada setiap bulan Sapar (Arab:Safar) selalu diadakan upacara adat penyembelihan Bekakak.

Bagi Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, upacara adat ini dijadikan kalender pariwisata dan dipromosikan sebagai salah satu aset kebudayaan. Lewat kemasan tersebut, Bekakak kini menjadi salah satu magnet budaya yang mampu menarik animo wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. *** (Teguh R Asmara)



Share



Dibaca : 438

Berikan komentar Anda !



OBYEK WISATA





  • www.adicita.com
  • Pengunjung Online

           Online: 667
     Hari ini: 3.618
     Kemarin : 3.710
     Minggu lalu : 34.556
     Bulan lalu : 91.875
     Total : 3.578.544
    Sejak 20 Mei 2010