English Version | Bahasa Indonesia
Daftar | Masuk Kamis, 24 Mei 2012

Darmanto: Penyair yang Pernah Jual Celana untuk Pentas Teater

Darmanto: Penyair yang Pernah Jual Celana untuk Pentas Teater

Darmanto (duduk di tengah) bersama para penyair yang membacakan puisi (Foto: Trasmara)
24 Januari 2012

Bantul, Jogjatrip.com - Darmanto Jatman (JT) tampak tersenyum ketika beberapa penyair membacakan puisi-puisi karyanya. Penyair yang juga dosen di UNDIP namun kini menderita stroke ini tampak lega. Sang istri, Ny. Sri Muryati, tampak setia mendampingi sang suami yang menampakkan raut wajah berbinar seusai para penyair membaca puisi. Ini terjadi pada pembacaan puisi-puisi karya Darmanto JT, Sabtu (21/1) di Rumah Budaya Tembi.

Tampil membaca puisi adalah Genthong HSA, Landung Simatupang, Wani Dharmawan, Oni Srikandi, dan Butet Kertarejasa. “Saya ingat di tahun 1970-an ketika mas Darmanto akan pentas teater di Gedung BTN, ia harus menjual celana jeans untuk uang sewa gedung. Waktu itu sewa gedung hanya Rp 1.900,00. Dan celana yang dijual laku Rp 2.000,” kata Genthong sebelum membacakan 3 puisi Darmanto.

Masing-masing penyair yang tampil malam itu menampilkan gaya khas tersendiri. Salah satu yang menarik adalah gaya khas dari Butet Kertarejasa yang membacakan “Pasar Sapi”, puisi panjang karya Darmanto. “Waktu kecil, mas Darmanto sering dolan ke tempat ayah saya. Dan saya selalu menguping pembicaraan ayah saya dan mas Darmanto yang bicara mengenai puisi. Karena menguping itulah saya terlanjur mencintai puisi,” ujar Butet sebelum membaca puisi.

Bergaya monolog, Butet mampu menampilkan puisi “Pasar Sapi” menjadi hidup dengan berbagai vokal yang diucapkan. Selama Butet membaca puisi, Darmanto tampak kagum dan sesekali manggut-manggut dan tersenyum.

Darmanto merupakan salah satu sosok penyair senior yang melahirkan banyak karya sastra yang menuai pujian. Pada Maret 2011, Darmanto memperoleh penghargaan Satyalencana Kebudayaan 2011 dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Penghargaan ini diberikan pada Darmanto yang dinilai memiliki jasa besar di bidang kebudayaan dan pelestarian kebudayaan daerah atau nasional.

Penyair yang lahir pada tahun 1943 ini kini sedang sakit stroke dan tak mampu lagi membaca puisi sendiri. Pembacaan puisi oleh para penyair dan aktor teater pada malam itu sengaja dibuat dan didedikasikan untuk penyair senior kebanggaan Indonesia, Darmanto Jatman. *** (Teguh R Asmara)



Share



Dibaca : 240

Berikan komentar Anda !



OBYEK WISATA





  • www.adicita.com
  • Pengunjung Online

           Online: 623
     Hari ini: 3.590
     Kemarin : 3.710
     Minggu lalu : 34.556
     Bulan lalu : 91.875
     Total : 3.578.516
    Sejak 20 Mei 2010